Entri Populer

Rabu, 22 Juni 2016

Judul  : Persepsi Gangguan Jiwa
NIM.                    : 151001091
Oleh  : Wiece trisna H
Pembimbing : Iswanto Karso, MSc.RN
Pendahuluan : Orang dengan gangguan jiwa. Banyak orang ketika mendengar kata gangguan jiwa, yang di fikirkan ialah  mengenai seseorang yang
berperilaku dan berpenampilan tidak seperti umumnya orang normal atau aneh. Orang dengan gangguan jiwa tidak memikirkan apa yang dilakukan tersebut seperti berbicara sendiri waktu berjalan,membuka semua pakaiannya di  depan umum, bertingah tidak wajar,  berbicara nglantur dan lain-lain. Gangguan jiwa biasanya di akibatkan oleh stress yang tak kunjung sembuh.
Isi :       Definisi Gangguan Jiwa
Gangguan jiwa adalah gangguan pada satu atau lebih fungsi jiwa. Gangguan jiwa adalah gangguan otak yang ditandai oleh terganggunya emosi, proses berpikir, perilaku, dan persepsi (penangkapan panca indera). Gangguan jiwa ini menimbulkan stress dan penderitaan bagi penderita dan keluarganya (Stuart & Sundeen, 1998). Gangguan jiwa dapat mengenai setiap orang, tanpa mengenal umur, ras, agama, maupun status sosial dan ekonomi. Banyak tokoh jenius yang mengalami gangguan kejiwaan, seperti Abraham Lincoln yang mengalami Depression, Michaelangelo mengalami Autism, Ludwig von Beethoven mengalami Bipolar Disorder, Charles Darwin mengalami Agoraphobia, Leo Tolstoy mengalami Depression. Gangguan jiwa bukan disebabkan oleh kelemahan pribadi. Di masyarakat banyak beredar kepercayaan atau mitos yang salah mengenai gangguan jiwa, ada yang percaya bahwa gangguan jiwa disebabkan oleh gangguan roh jahat, ada yang menuduh bahwa itu akibat guna-guna, karena kutukan atau hukuman atas dosanya. Kepercayaan yang salah ini hanya akan merugikan penderita dan keluarganya karena pengidap gangguan jiwa tidak mendapat pengobatan secara cepat dan tepat (Notosoedirjo, 2005).
Penyebab gangguan jiwa: 1. Faktor Organobiologi seperti faktor keturunan (genetik).
     2. Faktor Psikologis seperti adanya mood yang labil.
 3. Faktor Lingkungan (Sosial) baik itu di lingkungan terdekat    kita yaitu keluarga.
Tanda dan gejala gangguang jiwa :
Halusinasi yaitu pengalaman panca indra tanpa ada rangsangan.
Merasa depresi, sedih atau stress tingkat tinggi secara terus-menerus.
Paranoid (cemas/takut) pada hal-hal biasa.
Memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidup atau bunuh diri.
Memiliki emosi atau perasaan yang mudah berubah-ubah.
Pola tidur terjadi perubahan tidak seperti biasa.
Kontak emosional amat miskin, sukar diajak bicara, pendiam.
Sulit dalam berpikir abstrak.
Klasifikasi Gangguan Jiwa
a.         F Gangguan Mental Organik, termasuk Gangguan Mental Simtomatik
Gangguan mental organic = gangguan mental yang berkaitan dengan penyakit/gangguan sistemik atau otak. Gangguan mental simtomatik = pengaruh terhadap otak merupakan akibat sekunder penyakit/gangguuan sistemik di luar otak.
Gambaran utama:
           Gangguan fungsi kongnitif
           Gangguan sensorium – kesadaran, perhatian
           Sindrom dengan manifestasi yang menonjol dalam bidang persepsi (halusinasi), isi pikir (waham), mood dan emosi
b.         Fl Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Alkohol dan Zat Psikoaktif Lainnya
c.         F2 Skizofrenia, Gangguan Skizotipal dan Gangguan Waham.
d.        F3 Gangguan Suasana Perasaan (Mood [Afektif])
  Kelainan fundamental perubahan suasana perasaan (mood) atau afek, biasanya kearah depresi (dengan atau tanpa anxietas), atau kearah elasi (suasana perasaan yang meningkat).
e.         F4 Gangguan Neurotik, Gangguan Somatoform dan Gangguan Terkait Stres
f.          F5 Sindrom Perilaku yang Berhubungan dengan Gangguan Fisiologis dan Faktor Fisik
g.         F6 Gangguan Kepribadian dan Perilaku Masa dewasa
  Kondisi klinis bermakna dan pola perilaku cenderung menetap, dan merupakan ekspresi pola hidup yang khas dari seseorang dan cara berhubungan dengan diri sendiri maupun orang lain.
h.         F7 Retardasi Mental
  Keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai oleh terjadinya hendaya ketrampilan selama masa perkembangan,
i.           F8 Gangguan Perkembangan Psikologis
  Gambaran umum
           Onset bervariasi selama masa bayi atau kanak-kanak
          Adanya hendaya atau keterlambatan perkembangan fungsi-fungsi yang berhubungan erat dengan kematangan biologis susunan saraf pusat
           Berlangsung terus-menerus tanpa remisi dan kekambuhan yang khas bagi banyak gangguan jiwa pada sebagian besar kasus,
j.           F9 Gangguan Perilaku dan Emosional dengan Onset Biasanya Pada Masa Kanak dan Remaja.
C)                Hubungan Antara Organobiologis, Psikopatologis dan Sosiokultural pada Gangguan Jiwa
1.         Organobiologis
Manusia bereaksi secara keseluruhan, secara holistik, atau dapat dikatakan juga secara organobioliologis, psychoeducative, sosiocultural. Dalam mencari penyebab gangguan jiwa, maka ketiga unsur ini harus diperhatikan. Yang mengalami sakit dan menderita ialah manusia seutuhnya dan bukan hanya badannya, jiwanya atau lingkungannya. Hal-hal yang dapat mempengaruhi perilaku manusia ialah keturunan, umur, jenis kelamin, keadaan badaniah, keadaan psikologik, keluarga, adat-istiadat, kebudayaan dan kepercayaan, pekerjaan, pernikahan, kehamilan, kehilangan dan kematian orang yang dicintai, agresi, rasa permusuhan, hubungan antar amanusia, dan sebagainya.
Gangguan jiwa dipengaruhi oleh banyak factor, Dr. dr. Luh Ketut Suryani mengungkapkan bahwa gangguan jiwa dapat terjadi karena tiga faktor yang bekerjasama yaitu faktor biologik, psikologik, dan sosiobudaya. Biarpun gejala umum atau gejala yang menonjol itu terdapat pada unsur kejiwaan, tetapi penyebab utamanya mungkin di badan (organobiologis), di lingkungan social (sociokultural) ataupun psikologis dan pendidikan (psychoeducative). Biasanya tidak terdapat penyebab tunggal, akan tetapi beberapa penyebab sekaligus dari berbagai unsur itu yang saling mempengaruhi atau kebetulan terjadi bersamaan, lalu timbulah gangguan badan ataupun jiwa. Umpamanya seorang dengan depresi, karena kurang makan dan tidur daya tahan badaniah seorang berkurang sehingga mengalami peradangan tenggorokan atau seorang dengan mania yang berperilaku sangat aktif mendapat kecelakaan. Sebaliknya seorang dengan penyakit badaniah umpamanya peradangan yang melemahkan, maka daya tahan psikologiknya pun menurun sehingga ia mungkin mengalami depresi.
Sudah lama diketahui juga, bahwa penyakit pada otak sering mengakibatkan gangguan jiwa. Contoh lain ialah seorang anak yang mengalami gangguan otak (karena trauma kelahiran, peradangan) kemudian menjadi banyak tingkah (hiperkinetik) dan suka rdiasuh. Ia mempengaruhi lingkungannya, terutama orang tua dan anggota lain serumah. Mereka ini bereaksi terhadapnya dan mereka saling mempengaruhi. Sumber penyebab:
  Genetik (heredity). Adanya kromosom tertentu yang membawa sifat gangguan jiwa (khususnya pada skizofrenia). Hal ini telah dipelajari pada penelitian anak kembar, dimana pada anak kembar monozigot (satu sel telur) kemungkinan terjadinya skizofrenia persentase tertinggi (86, 2 %), sedangkan pada anak kembardengan dua sel telur (heterozigot) kemungkinannya hanya 14, 5%.


Bentuk tubuh (konstitusi) Kretschmer (1925) dan Sheldon (1942), meneliti tentang adanya hubungan antara bentuk tubuh dengan emosi, temperament,dan kepribadian(personality). Contoh : Orang yang berbadan gemuk emosinya cendrung meledak- ledak, ia bisa lompat kegirangan ketika mendapat hal yang menyenangkan baginya dan sebaliknya.
  Terganggunya otak secara organic. Contoh : Tumor, trauma (bisa disebabkan karena gagar otak yang pernah dialami karena kecelakaan), infeksi, gangguan vaskuler, gangguan metabolisme, toksin dan gangguan cogenital dari otak
  Pengaruh cacat congenital. Contoh: Down Syndrome (mongoloid)
  Pengaruh neurotrasmiter Yaitu suatu zat kimia yang terdapat diotak yang berfungsi sebagai pengantar implus antar neuron (sel saraf) yang sangat terkaitdengan penelitian berbagai macam obat-obatan yang bekerja pada susunan saraf Contoh: Perubahan aktivitas mental, emosi, dan perilaku yangdisebabkan akibat pemakaian zat psikoaktif
  Neroanatomi
  Neurofisiologi
  Neurokimia
  Tingkat kematangan dan perkembangan organik
  Faktor-faktor pre dan peri-natal

2.         Faktor-faktor psikopatologi
Psikopatologi adalah lapangan psikologi yang berhubungan kelainan atau hambatan kepribadian yang menyangkut proses dan isi kejiwaan. Dalam psikopatologi dikenal tiga golongan besar kelainan atau hambatan kepribadian yaitu:
a.    Psikosa
Psikosa ialah gangguan kejiwaan yang meliputi keseluruhan kepribadian seseorang, sehingga orang yang mengalami tidak bisa lagi menyesuaikan diri dalam norma-norma yang wajar dan berlaku umum. Psikosa umumnya terbagi dalam dua golongan besar yaitu:
1)        Psikosa fungsionali. Faktor penyebabnya terletak pada aspek kejiwaan, disebabkan karena sesuatu yang berhubungan dengan bakat keturunan, bisa juga disebabkan oleh perkembangan atau pengalaman yang terjadi selama sejarah kehidupan seseorang
2)        Psikosa organik Disebabkan oleh kelainan atau gangguan pada aspek tubuh, kalau jelas sebab-sebab dari suatu psikosa fungsional adalah hal-hal yang berkembang dalam jiwa seseorang.
b.    Psikoneurosa
Psikoneurosa atau dengan singkat dapat disebutkan neurosa saja, adalah gangguan yang terjadi hanya pada sebagian daripada kepribadian, sehingga orang-orang yangmengalaminya masih bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan biasa atau masih bisa belajar dan jarang memerlukan perawatan khusus di rumah sakit.
c.    Psikopat
Golongan ketiga ini merupakan hambatan kejiwaan yang menyebabkan kesulitan penyesuaian diri atau timbul ketidakmauan untuk mengikuti norma-norma yang ada dilingkungan. Karena itu istilah psikopati sering disinonimkan sosiopsikopati. Penderita memperlihatkan adanya sikap egosentris yang besar, seolah-olah patokan untuk semua perbuatan adalah dirinya sendiri saja. Ciri lain adalah keinginan untuk menguntungkan diri sendiri tanpa memperdulikan oleh pihak lain. Dalam bentuk yang ringan, gangguan kejiwaan seperti di atas disebut character disorder yang dapat kita lihat misalnya pada seseorang yang eksentrik yang berdandan sesuai dengan seleranya sendiri tanpa memerlukan apakah dandannya itu akan menjadi bahan tertawaan atau tidak. Gejala yang diperlihatkan oleh seseorang merupakan perwujudan dari pengalaman yang lampau yaitu pengalaman masa bayi sampai dewasa.Faktor psikologik disini dapat dibagi menjadi dua, yaitu:

1)        Hubungan intrapersonal
   Inteligensi
   Keterampilan
   Bakat dan minat
   KepribadianSalah satu hal yang terpenting yang tidak jarang bereaksi secara patologis disini adalah faktor dari kepribadian individu itu sendiri, hal ini disebabkan karena pengaruh dalam perkembangannya berlaian bagi setiap individu, sehingga terkadang pola penyesuaiannya berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lainnya.
2)        Hubungan interpersonal
           Interaksi antara kedua orang tua dengan anaknya
           Orang tua yang overprotektif
           Orang tua yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri
           Peran ayah dalam keluarga
           Persaingan antar saudara kandung
           Kelahiran anak yang tidak diharapkan
3.         Faktor-faktor sosiokultural
Gangguan jiwa yang terjadi di berbagai negara mempunyai perbedaan terutama mengenai pola perilakunya. Karakteristik suatu psikosis dalam suatu sosio-budaya tertentu berbeda dengan budaya lainnya. Adanya perbedaan satu budaya dengan budaya yang lainnya,menurut Zubin, 1969, merupakan salah satu faktor terjadinya perbedaan distribusi dan tipe gangguan jiwa. Begitu pula Maretzki dan Nelson, 1969, mengatakan bahwa alkulturasi dapat menyebabkan pola kepribadian berubah dan terlihat pada psikopatologinya. Pendapat ini didukung pernyataan Favazza (1980) yang menyatakan perubahan budaya yang cepat seperti identifikasi, kompetisi, alkulturasi dan penyesuaian dapat menimbulkan gangguan jiwa. Selain itu, status sosial ekonomi juga berpengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa Goodman (1983) yang meneliti status ekonomi menyatakan bahwa penderita yang dengan status ekonomi rendah erat hubungannya dengan prevalensi gangguan afektif danalkoholisma. (litbang)
           Pengaruh rasial, Contoh: Adanya pengucilan pada warga berkulit hitam di negara Eropa
           Golongan minoritas , Contoh: Pengucilan terhadap seseorang atau sekelompok orang yangmenderita penyakit HIV
           Masalah nilai-nilai yang ada dalam masyarakat
           Masalah ekonomi, Contoh: Karena selalu hidup dalam kekurangan seorang ibu menganiya anaknya
           Masalah pekerjaan
           Bencana alam
           Perang, Contoh: karena perang yang berkepanjangan seorang anak menjadi stress
           Faktor agama atau religius baik masalah intra agama ataupun inter agama, Contoh:Perasaan bingung dalam keyakinan yang dialami seorang anak karena perbedaan keyakinan dari orang tuanya
           Kestabilan keluarga
Keluarga-keluarga dengan kondisi tertentu berpotensi untuk memilki anggota gangguan jiwa.Sehingga dalam berkeluarga perlu mencari ilmu untuk menentukan strategi yang diterapkan dalam mencapai visi atau tujuan keluarga. Potensi-potensi tersebut adalah :
o    Tidak ada nilai agama di rumah tangga
o    Orang tua pengangguran atau tidak ada penaggung jawab ekonomi
o    Kemiskinan
o    Ada anggota yang melakukan Kriminalitas
o    Kekerasan di rumah tangga
o    Lingkungan yang buruk
o    Sering ada pertengkaran
o    Tidak ada komunikasi
o    salah satu anggota menggunakan NAPZA
o    Tidak ada model Pola mengasuh anak


Kesimpulan : Secara lebih rinci, gangguan jiwa bisa dimaknai sebagai suatu kondisi medis dimana terdapat gejala atau terjadinya gangguan patofisiologis yang menganggu kehidupan sosial, akademis dan pekerjaan. Gangguan tersebut bisa berbentuk apa saja yang beresiko terhadap pribadi seseorang dan lingkungan sekitarnya. Contoh ekstrim yang sering kita lihat dari gangguan jiwa ini adalah mereka yang menderita skizophrenia. Mereka sering bicara sendiri, tertawa sendiri, cepat tersinggung atau marah sehingga tidak bisa ikut dalam kegiatan sosial. Contoh gangguan jiwa ringan yang sebenarnya banyak terjadi, namun sering dianggap masalah sepele adalah phobia. Takut ketinggian atau acrophobia misalnya, sebenarnya masalah sepele, namun akan berdampak negatif apabila si penderita diharuskan untuk bekerja di tempat yang tinggi. Misal si penderita menjadi pegawai di sebuah perusahaan yang kantornya ada di lantai 8 sebuah gedung. Ada penderita phobia yang harus rela kehilangan pekerjaan yang sebenarnya sangat ia impikan karena masalah seperti tadi. Kasus seperti ini juga contoh dari efek negatif  gangguan jiwa terhadap diri sendiri.
Mereka yang menderita gangguan jiwa berat seperti depresi sudah pasti menghadapi perkara hidup yang lebih sulit dibandingkan orang yang masih normal. Orang depresi bisa saja kehilangan pekerjaan, diejek, diintimidasi, dihina, yang berakhir pada kehilangan kepercayaan dirinya, kehilangan harta, kehilangan keluarga bahkan banyak yang kehilangan nyawanya karena bunuh diri. Untuk mengetahui apakah seseorang punya masalah kejiwaan, bisa dimulai dengan bertanya “apakah saya hidup normal seperti orang di lingkungan saya, apa ada perilaku saya yang menyimpang, merusak, atau merugikan diri sendiri dan orang lain?”. Diagnosa gangguan jiwa oleh dokter juga umumnya berdasarkan wawancara dengan pasien dan keluarganya. Beberapa negara maju juga telah memasukkan serangkaian pemeriksaan otak (scan) dan pemeriksaan zat kimia tubuh untuk memberikan diagnosa gangguan jiwa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar